MAKALAH
“DO’A”
Oleh :
SITI ROHIMAH :
NPM 12.03.2808
INSTITUT AGAMA
ISLAM DARUSALAM (IAID) CIAMIS
PROGRAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TAHUN 2013 M/ 1434 H
PENDAHULUAN
Puji
syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, taufiq dan
hidayah-Nya, sempurnalah segala
kebaikan. Juga tak lupa semoga rahmat dan salam sejahtera selalu dicurahkan
kepada nabi yang paling mulia, panutan kita Muhammad SAW.
Tetapi penulis menyadari masih banyak
kekurangan dan kehilafan dalam penyusunan makalah ini, karena masih dalam
proses belajar. Oleh karena itu kami berharap para pembaca berkenan memberikan
kritik konstruktif demi memperbaiki dalam penyusunan makalah-makalah selanjutnya.
Tak lupa kami haturkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah membimbing
kami dalam penyusunan makalah ini, juga teman-teman yang telah mamberikan
sumbangsih berupa ide, gagasan, pemikiran dll.
Semoga makalah ini
bisa menambah khazanah keilmuan khususnya bagi kami sebagai penyusun dan
umumnya bagi pembaca sekalian. Amin.
Ciamis, 20 September 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang ............................................................................. 1
1.2
Rumusan
Masalah ........................................................................ 1
1.3
Tujuan
Pembahasan ..................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Do’a .......................................................................... 2
2.2
Dasar
Hukum Tentang Do’a ........................................................ 4
2.3 Makna dan Hakekat Do’a ............................................................ 4
2.4 Fungsi Berdo’a............................................................................. 6
2.5 Waktu Berdo’a............................................................................ 7
2.6 Rahasia Do’a Makbul................................................................. 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan modern saat ini, selalu saja ada satu waktu dimana
manusia merasa tidak mengerti, tidak tahu serta tidak mampu mengatasi
permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Bahkan, orang yang mengedepankan
rasional atau seorang yang sudah berhasil menempuh pendidikan jenjang
tertinggi sekalipun suatu saat mengalami kondisi saat dirinya tidak tahu dan
tidak mampu (jawa: menthok).Ketika seseorang merasa tidak tahu dan tidak
mampu untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya, maka ia akan membutuhkan
kekuatan dari luar dirinya yang diyakini akan bisa membantu mengatasi
permasalahannya. Kekuatan dari luar mungkin bisa Sang Pencipta atau hal-hal
lain yang dianggap mampu dan diyakini mampu membantu mengatasi permasalahan.Sebagai
Insan yang beriman tentu saja dalam mangatasi problematika kehidupan selalu
disandarkan pada kekuatan Tuhan, tidak dengan cara-cara yang tidak sesuai
dengan Agama. Apalagi sebagai umat islam dituntunkan untuk meminta pertolangan
hanya kepadanya.Do’a merupakan harapan munculnya kekuatan dari Tuhan agar bisa
memecahkan permasalahan, Do’a juga sebagai sugesti sesorang agar mampu
mengatasi berbagai permasalahan hidup yang diahadapi.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
pemaparan latar belakang di atas maka untuk memudahkan pembahasan penyusun
mencoba membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
pengertian Do’a?
2.
Bagaimana Dasar Hukum Tentang Do’a?
3.
Bagaimana Makna Dan Hakekat Do’a?
4.
Apa Fungsi Do’a?
5.
Kapan Waktunya Berdo’a?
6.
Bagaimana Rahasia Do’a?
1.3
Tujuan Pembahasan
Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah diharapkan mahasiswa dapat memahami :
1.
Mengetahui
tentang pengertian Do’a
2.
Mengetahui Dasar Hukum Tentang Do’a
3.
Mengetahui Bagaimana Makna Dan Hakekat Do’a
4.
Mengetahui Apa Fungsi Do’a
5.
Mengetahui Kapan Waktunya Berdo’a
6.
Mengetahui Bagaimana Rahasia Do’a
BAB II
PEMBAHASAN
DO’A
2.1
Pengertian
Do’a
Dalam Al-Quran banyak sekali kata-kata do'a
dalam pengertian yang bebeda. Abû Al-Qasim Al-Naqsabandî dalam kitab syarah
Al-Asmâ'u al-Husnâ menjelaskan beberapa pengertian dari kata doa.
Pertama, do'a dalam pengertian "Ibadah”
Maksud kata berdo'a di atas adalah
ber-"ibadah" (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada
Allah, yakni sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat
kepadamu.
Kedua, doa dalam
pengertian "Istighatsah" (memohon bantuan dan pertolongan).
Maksud kata ber-"doa" (wad'u) dalam
ayat ini, adalah "Istighatsah" (meminta bantuan, atau pertolongan).
Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat
membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.
Ketiga, Doa dalam
pengertian "permintaan" atau "permohonan." Seperti dalam
Maksud kata "Doa" (ud'ûnî) dalam ayat
ini adalah, "memohon" atau "meminta." Yaitu, mohonlah
(mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akanperkenankan permohonan
(permintaan) kamu itu.
Keempat, Doa dalam
pengertian "percakapan".
Kelima, Doa dalam
pengertian "memanggil."
Maksud kata
"doa" (yad'û) dalam ayat ini adalah "memanggil."
Yaitu, pada suatu hari, dimana la (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.
Keenam, Doa dalam
pengertian "memuji."
Maksud kata
"doa " (qulid'û) dalam ayat ini adalah "memuji".
Yaitu, pujilah olehmu Muhammad akan Allah atau pujilah olehmu Muhammad
akan Al-Rahmân.
2.2 Dasar Hukum Tentang Do’a
Do’a adalah ibadah surat Yunus ayat 106:
Artinya: "Dan
janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak
dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat
kepada engkau."
Do’a adalah
Istighatsah surat Al-Baqoroh ayat 23:
Artinya: "Dan
berdo'alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat
membantumu."
Do’a adalah
permintaan atau permohonan dalam surat
Al-Mu'minûn ayat 60 dibawah ini.
Artinya: "Mohonlah
(mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu."
Do’a dalam
pengertian percakapan
Artinya: "Doa (percakapan) mereka
di dalamnya (surga), adalah Subhânakallâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan).
Do’a dalam pengertian memanggil daam surat al
quran
Artinya: "Pada
hari, dimana la mendoa (memanggil) kamu."
2.3
Makna
dan Hakekat Do’a
Bagaimana
mungkin permintaanmu yang baru datang belakangan akan bisa mengubah anugerahNya
yang terdahulu?”
Inilah
ketegasan tauhid kita untuk memahami hubungan antara doa dan takdir. Banyak
para hamba Allah Swt yang merasa ada kontradiksi yang mempengaruhi batin
mereka, gara-gara belum tuntasnya antara ikhtiar, doa dan takdir. Dengan
sejumlah pertanyaan, apakah takdir itu bisa diubah dengan doa dan usaha? Kalau
bisa berarti Allah Swt tergantung pada hambaNya. Kalau tidak bisa apakah makna
dibalik perintah doa dan ikhtiar itu?
Dalam bahasa
Sufistik, soal ikhtiar, doa dan takdir dilihat dari dimensi hakikatnya. Bahwa
secara hakikat, upaya dan doa itu tidak akan menjadi sebab terwujudnya takdir,
dan tidak akan mengubah takdir. Mengapa demikian? Karena takdir Allah Swt,
dengan semua ketentuanNya telah mendahului ikhtiar dan doa kita. Bagaimana
mungkin, sesuatu yang baru (berupaya upaya dan doa kita) bisa mengubah sesuatu
yang mendahului (ketentuan Allah Swt)?
Jadi cara
memahami hakikat doa dan ikhtiar adalah:
Doa dan ikhtiar
itu sesungguhnya juga takdir.
Bila Allah Swt
hendak memberi anugerah seseorang, maka si hamba juga ditakdirkan dan diberi
kemampuan untuk berdoa dan berikhtiar.
Doa dan ikhtiar
hanyalah tanda-tanda takdir itu sendiri.
Allah
memerintahkan kita berupaya dan berdoa agar kita memahami bahwa kita sangat
terbatas dan tak berdaya, sehingga doa dan upaya adalah bentuk kesiapan
kehambaan belaka agar kita siap menyongsong takdirNya.
Aturan syariat
mengharuskan kita berikhtiar dan berdoa, karena syariat adalah aturan bagi
keterbatasan manusia, dengan bahasa dan tugas manusiawi (taklifi), maka
seseorang akan berdoa dan beriktiar dengan penuh kepasrahan dan kerelaan pada
ketentuan dan pilihan terbaikNya. Bukannya berdoa untuk memaksaNya mengubah
takdirNya.
Maka Ibnu
Athaillah menegaskan dengan ucapan beliau:“Maha Besar (jauh) bila hukum
AzaliNya harus disandarkan pada sebab akibat yang baru.”
Allah Swt
adalah sebab segalanya dan segalanya bergantung semua kepada Allah Swt. Allah
Swt tidak pernah menjadi akibat; seperti akibat kita berdoa Allah menuruti apa
yang kita mau, akibat kita berusaha Allah mengubah takdirNya.Berdoa kita
lakukan semata untuk ‘ubudiyah, manifestasi kehambaan kita akan terwujud ketika
kita berdoa. Sebab dengan berdoa manusia merasa hina dina, merasa butuh, merasa
tak berdaya dan merasa lemah di hadapanNya. Dan itulah hakikat ubudiyah dibalik
doa, agar kita tetap menjaga rasa hina, rasa fakir, rasa tak berdaya dan rasa
lemah. Karena dengan nuansa seperti itu kita akan cukup bersama Allah, mulia
bersamaNya, mampu bersamaNya, kuat bersamaNya. Wallahu A’lam.
2.4
Fungsi Do’a
Ada beberapa
keutamaan yang akan kita peroleh dalam berdoa.
1. Allah menyertai hamba-nya yang berdoa. Muhammad Rosulullah saw. bersabda,"Sesungguhnya
Allah berfirman: Aku selalu dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku,
dan Aku selalu bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku." (HR.
Bukhori Muslim dari Abu Huroiroh ra)
2. Doa senjata orang mukmin. Muhammad Rosulullah saw. bersabda,
"Doa adalah senjata orang mukmin, dan tiang agama, serta cahaya langit dan
bumi". (HR.
Hakim dari Ali bin Abi Tholib ra.)
3. Doa datangkan keselamatan. Muhammad Rosulullah saw. bersabda,
"Janganlah engkau merasa lemah untuk berdoa, sebab sesungguhnya tidak
seorang pun yang binasa selama ia tetap berdoa". (HR. Ibnu
Hiban dan Hakim dari Anas ra.)
4. Doa menolak bencana, dan menolak tipu daya musuh. Muhammad Rosulullah saw.
bersabda,"Doa berguna terhadap
apa saja yang telah menimpa seseorang, dan hal-hal yang belum turun kepadanya.
Sesungguhnya bencana
pasti akan turun, dan akan ditemui oleh, doa. Lalu keduanya selalu bersaingan
sampai hari kiamat". (HR. Bazaar dan Thobroni dari Aisyah ra.)
Maksudnya,
bencana senantiasa mengintai manusia, dan semua itu dapat
ditolak hanya dengan doa.
Memanjatkan
doa kepada Allah SWT, pertanda beriman kepada- Nya. Itulah sebabnya doa
dikatakan sebagai tiang agama. Doa yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman
tersebut, jika diawali atau diakhiri dengan bacaan sholawat, akan dibawa naik
oleh para malaikat. Maka tidak salah jika doa itu diibaratkan cahaya langit dan
bumi.
2.5
Waktu
Berdo’a
Selayaknya kita
memperhatikan waktu-waktu khusus tersebut. Berikut ini adalah waktu-waktu
istimewa yang tidak selayknya kita lewatkan dan kita gunakan sebaik-baiknya
untuk berdoa.
1. Setiap akhir sholat (sebelum salam)
Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu
berkata: “Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam: “Wahai Rasulullah, doa apakah yang didengarkan (dikabulkan)?” Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
« جَوْفُ اللَّيْلِ
الآخِرُ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ »
“Doa yang dipanjatkan di tengah malam yang
akhir dan di akhir shalat wajib.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa`i dalam
Al-Kubra)
2. Satu waktu di malam hari
Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« إِنَّ فِى اللَّيْلِ
لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ».
“Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu
yang tidaklah bersamaan dengan itu seorang muslim meminta kepada Allah kebaikan
dari perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah akan mengabulkan permintaan
tersebut, dan itu ada di setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
3. Ketika terbangun di waktu malam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Barangsiapa yang terbangun di waktu malam lalu
mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ
لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَا اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ
أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Laa ilaaha illalloh, wahdahu laa syariikalahu,
lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘ala kuli syaiin qodiir;
Alhamdulillah, wa subhanalloh, wa laa ilaaha
illalloh, wallohu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billah”
Kemudian
mengucapkan:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي
“Allohummagh firlii”
Atau berdoa, maka dikabulkan (doanya). Dan jika
berwudhu’ kemudian melaksanakan shalat maka shalatnya diterima.” (HR.
Al-Bukhari)
4. Ketika dikumandangkannya adzan dan berada di
medan perang
5. Suatu waktu pada hari Jum’at
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang hari Jum’at, beliau
bersabda:
« إِنَّ فِى الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ
قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ
بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا».
“Sesungguhnya di hari Jum’at itu ada suatu
waktu yang tidaklah waktu tersebut bertepatan dengan seorang muslim yang sedang
melaksanakan shalat, lalu meminta kepada Allah suatu kebaikan, kecuali pasti
Allah akan mengabulkannya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan
dengan tangannya untuk menunjukkan singkatnya waktu tersebut. (Muttafaqun
‘alaihi).
6 dan 7. Tatkala berbuka puasa bagi orang
yang berpuasa dan menjadi pemimpin yang adil
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu
‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka
ada doa yang tidak ditolak”. [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu
Da'watuhu 1/321 No. 1775.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام
العادل و المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak
tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin
yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528,
Ibnu Majah no. 1752, Ibnu Hibban no. 2405, dishahihkan Al Albani di Shahih
At Tirmidzi)
8. Pada saat turun hujan
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342
mengatakan,”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana
diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ
ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ
الْغَيْثِ
Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan :
[1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan
[3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al
Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al
Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul Jami’)
9. Pada saat
ajal tiba
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi
rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu
Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
10. Ketika mendengar ayam berkokok
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ
فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا وَإِذَا سَمِعْتُمْ
نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ رَأَى
شَيْطَانًا
“Apabila kalian mendengar kokokan ayam maka
mohonlah anugerah kepada Allah karena ayam itu melihat malaikat. Apabila kalian
mendengar ringkihan keledai berlindunglah kepada Allah dari gangguan syaithan
karena keledai itu melihat syaithan.” [HR Al Bukhari (3303) dan Muslim (2729)]
11. Doa seseorang kepada saudaranya ketika
tidak dihadapannya.
Dari Ummu Ad Darda` radhiyallahu ‘anha,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
دعوة المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة عند رأسه
ملك موكل كلما دعا لأخيه بخير قال الملك الموكل به آمين ولك بمثل
“Doa seorang muslim kepada saudaranya yang
dilakukan tidak dihadapannya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada seorang
malaikat yang diberikan tugas setiap kali dia mendoakan kebaikan kepada
saudaranya maka malaikat yang bertugas tadi mengucapkan: “Amin, semoga bagimu
juga mendapatkan demikian.” [HR Muslim)
12. Hari rabu antara dzuhur dan ashar
Sunnah ini pun
mungkin belum diketahui oleh kebanyakan ikhwan yang sudah ngaji, yaitu
dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar di hari Rabu. Hal ini diceritakan
oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:
أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح
ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين
الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة
“Nabi shallallahu ‘alahi
Wasallam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa, dan
Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini
diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu
perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk
berdoa, dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”
Dalam riwayat lain:
فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر
والعصر
“Pada hari
Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR.
Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata:
“Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih
At Targhib, 1185)
13. Ketika meminum air zam-zam
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
ماء زمزم لما شرب له
“Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat
peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih
Ibni Majah, 2502)
14. Ketika dalam kesempitan dan kesusahan
Allah Ta’ala berfirman,
أَمَّنْ
يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ
“Siapakah yang mengijabahi (menjawab/
mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?” (An-Naml:
62)
15. Saat safar
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن دعوة المظلوم
ودعوة المسافر ودعوة الوالد على ولده
“Tiga macam doa yang pasti terkabul tanpa
diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizhalimi, doa seorang musafir, doa
kedua orang tua atas anaknya.” [HR Abu Daud (1536) dan At Tirmidzi (1905).
Hadits hasan]
2.6 Rahasia
Do’a Makbul
Ada 3 tahapan
yang harus kita lakukan agar do’a
kita maqbul, bahkan dijamin pasti insya Alloh manjur ;
1. Syukur
Mungkin kita bertanya, hidup saja susah apa yang mau disyukuri?
Inilah kesalahan kita. Coba kita renungkan ! andai kita mempunyai anak, anak
kita minta mobil-mobilan, karena kita sayang kita kasih, tapi anak itu lupa
membawa pulang mainannya ketika bermain dengan kawan-kawannya. Hilanglah mainan
itu. Keesokan harinya dia merengek minta dibelikan lagi,kita pun membelikannya,
dan kejadian pertama terulang lagi. Lantas jika anak kita itu minta lagi apa
jawab kita? Apa akan langsung membelikannya? Tentu kita akan marah bukan?
Memang Alloh
tidak seperti kita, namun kita hendaknya tahu diri, bagaimana Alloh akan
mengabulkan do’a kita jika nikmat yang sudah ada saja tidak pernah disyukuri,
ini namanya tidak tahu berterima kasih.Dan yang paling penting adalah
; do’a itu bisa di ijabah atau ditolak oleh Alloh, tapi syukur pasti
akan diterima ( bagaimana syukur yang benar? akan dilanjutkan dalam
tulisan berikutnya , insya Alloh).
2.
Malu
Sepantasnya kita malu, mungkin kita tidak
diberi harta lebih, tapi kita masih diberi akal, tangan, kaki dan yang lebih
penting kita masih hidup, tapi kenikmatan-kenikmatan itu sekan tidak berarti
apa-apa bagi kita, kita mendefinisikan nikmat itu hanya berupa
harta,tahta,wanita.
Mohonlah ampun kepada Alloh, atas
kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dengan sebenar-benarnya.
Insya Alloh dengan di awali dan dilandasi 3 hal
tersebut do’a kita akan di kabulkan oleh Alloh.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Do’a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi) selain
itu. Do’a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya
langit dan bumi. (HR. Abu Ya’la)
Pengembalian diri seseorang hanyalah kepada Sang Pencipta Allah SWT
dengan melakukan ibadah,karena do’a termasuk ibadah maka dapat dipanjatkan
tatkala tidak dalam menghadapi permasalahan yang rumit.
Ketika seseorang merasa tidak tahu dan tidak mampu untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapinya, maka ia akan membutuhkan kekuatan dari luar
dirinya yang diyakini akan bisa membantu mengatasi permasalahannya. Kekuatan
dari luar mungkin bisa Sang Pencipta atau hal-hal lain yang dianggap mampu dan
diyakini mampu membantu mengatasi permasalahan.
Sebagai Insan yang beriman tentu saja dalam mangatasi problematika
kehidupan selalu disandarkan pada kekuatan Tuhan, tidak dengan cara-cara yang
tidak sesuai dengan Agama. Apalagi sebagai umat islam dituntunkan untuk meminta
pertolangan hanya kepada-Nya.
Segala puji Hanya milik Allah, Tuhan semesta Alam
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Alfat, Masan. Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah. PT.
Karya Toha Putra Semarang. 1994
Kitab Al-Hikam,Ibnu Ato'illah Al-Asykandari
Tafsir Ibnu Katsir 6/203, Dar Thayyibah, cet, II, 1420 H, syamilah
hudawadinilhaq.wordpress.com/2012/06/15/pengertian-doa-3/
jiwareformasi.blogspot.com/2012/06/pengertian-doa.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar